Sejarah Gereja Kebayoran

Perkembangan Jemaat dimulai dari Cabang Sekolah Sabat Anak-Anak dan Penginjilan Perorangan yang dilakukan ole Ibu. Marry Ngantung dan berkat pendalam Alkitab oleh Pdt. H. Missah Bapak berhasil membawa anggota baru dari keluarga Nata Soemadi-Ibu dan putrinya di daerah Radio Dalam dan Jalan Kiray pada tahun 1971-1974. Dari sini terbentuklah Kelompok Kecil Kebayoran dan menjadi Cabang Sekolah Sabat Thamrin 1 dan tempat perbaktian sementara di kediaman keluarga Nata Jln. Antena 6 Blok C No.12.

Penginjilan dan perlawatan berjalan baik dari rumah ke rumah yang dipimpin oleh John Alexander Ramley dan akhirnya keluarga keluarga Ramley rela memberikan untuk perbaktian sementara pada hari sabat.

Pada tahun 1982 perkembangan jemaat begitu pesat dan jemaat ingin untuk di organisir namun Cabang ini belum memiliki tempat tetap untuk berbakti.  Dengan kesepakatan semua anggota yang kemudian dipelopori oleh A. Thona, akhirnya menyewa gedung Bhayangkari di Jln. Sanjaya I Jakarta Selatan untuk tempat perbaktian sabat.

Tepat 16 Desember 1982, Jemaat ini diorganisir menjadi Jemaat yang ke-32 oleh Organisasi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Konferens DKI Jakarta dan sekitarnya dengan anggota yang tercatat +/- 27orang.

Pengalaman dan perjalanan pelayanan tidak selamanya sesuai yang diharapkan karena gedung terkadang digunakan oleh pihak gedung untuk pertemuan polisi sehingga harus pindah ke gedung Serbaguna Bulungan dan terkadang di rumah A. Thona di Pondok Indah, keadaan yang berpindah-pindah ini akhirnya rumah A. Thona di Jln. Abuserin Fatmawati dirombak dan menyediakan untuk digunakan perbaktian.

Sementara Jemaat mulai berbakti dengan nyaman, namun lingkungan akhirnya menprotes dan keadaan yang genting inilah mamaksa Jemaat untuk memiliki sebuah gereja.

Pada 1 April 1985 Majelis GMAHK Kebayoran membentuk Panitia Pembangunan Gereja dan akhirnya membeli tanah Real Estate di Jln. Gandaria I No. 1, Gandaria Valley Estate Jakarta Selatan seluas 575m2.

Pada tanggal 18 Agustus 1985 dilakukan Peletakah batu pertama oleh Pdt. Alez Hendriks, Ketua GMAHK Uni Indonesia Bagian Barat (UIBB) dan izin pembangunan gereja telah dikeluarkan instansi yang berwenang.

Pembangunan phisik gereja seluruhnya selesai pada bulan Desember 1992.  Bangunan berlantai tiga, dimana lantai satu selesai Mei 1989 dan mulai digunakan untuk perbaktian 6 Mei 1989. Pembangunan lantai dua dan lantai tiga selesai Nopember 1991.

Penandatanganan prasasti pemakaian gedung gereja dilakukan tanggal 14 Nopember 1991 oleh Pdt. R.S. Folkenberg, Ketua GMAHK General Conference Sedunia.

Sejarah GMAHK Kebayoran tidak terlepas dari semua pihak dan instansi pemerintahan dan swasta atas segala dukungan yang telah diberikan, antara lain:

  • Bapak Presiden Republik Indonesia

  • Bapak Gubernur DKI Jakarta

  • Bank Central Asia

  • Organisasi GMAHK Divisi Timur Jauh

  • Organisasi GMAHK UIBB

  • Organisasi GMAHK DKI dan sekitarnya

  • GMAHK Jemaat Thamrin 1

  • Rumah Sakit Advent Bandung

  • Arsitek dan pengawas pembangunan (Ir. Guntur Hutapea, Ir. Netty Hutapea dan Rivat Argubi Dipl. Eng.)

Dengan bergandengan tangan untuk membangun kaabah ini dari tahun 1988 sampai 1992 dari setiap anggota yang telah memberikan palayanan dan dedikasinya serta segenap gembala yang telah melayani, antara lain:

  • Pdt. H. Missah

  • Pdt. W.H. Silitonga

  • Pdt. Reman Hutabarat

  • Pdt. Oloan Manullang

  • Pdt. J.L. Sahetapy

  • Pdt. Glori Wangania

  • Pdt. K.R. Sagala

  • Pdt. L. Situmorang (Sampai ditahbiskan)

Tepat tanggal 27 Desember 1992 pentahbisan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Kebayoran adalah karena anugerah Tuhan.

 Persatuan dan kesatuan yang menjadi cirri khas Jemaat GMAHK Kebayoran, sidang terus berkembang dengan pertambahan anggota baru sehingga pekabaran lekas selesai dan kita semua siap menantikan kedatang Tuhan yang tidak lama lagi dan kita semua diangkat ke Sorga.

 Tuhan memberkati